Catatanku Saat Mengunjungi Pulau Tidung

Kadang kita merencanakan hal jauh hari, tapi rencana tersebut tak terlaksana. Namun kadang hal yang mendadak bahkan terlaksana. Itulah yang terjadi padaku lalu seorang temanku. Pada H minus dua, kami berencana mengunjungi Pulau Tidung. Untuk ini teman-temanku yang pernah ke pulau tersebut selalu ikut rombongan, sedangkan aku bisa berdua dengan temanku. Bukannya tidak mau jalan2 rombongan, tapi memang teman-teman yang tidak ke Tidung tidak ada yang bisa turut karena rencana dadakan ini. Pada H-2 itu aku berusaha mencari informasi, penting lewat googling maupun bertanya pada yang sempat mendaratkan kakinya di Pulau Tidung. Daripada hasil googling didapat info, bila melalui agen wisata Tidung, kita harus booking H-2 minggu. Suatu hal yang mustahil aku perbuat. Maka berbekal nomor telepon beberapa homestay, info jadwal keberangkatan Kereta Commuter Bogor-Jakarta dan jadwal kapal, aku dan temanku siap meluncur ke Pulau Tidung. Mulanya kami akan mengejar kereta paling awal dari Bogor, yaitu jam 04: 04, tapi karena pertimbangan solat subuh, saya jamin kami pilih waktu setelah solat. Saat yang pas adalah kereta keberangkatan pukul 04: 25. Namun saat solat ke depan pelataran Dunkin Donut Stasiun Bogor (musholla sedang dipugar), kereta berangkat menggunakan cueknya meninggalkan kami. Alhamdulillah masih berada kereta jam 04: 36. Ternyata kereta masih lowong. Tahu begitu solat ke kereta saja, ya, jadi duduk dapat diatur, solatnya bisa menghadap ke arah kereta jalan. Tapi ingat kata-kata teman, “Ih, mentingin Tidung amat sih, sampe solat aja jadi ala kadarnya. ” Kan, dapat solat dalam perjalanan.

Pulau Tidung

Pukul 06: 10 kami tiba di Stasiun Kota. Pertokoan di sekitar stasiun masih tutup. Alhamdulillah tetasan kami sudah penuh perbekalan, jadi tak takut kelaparan selama di kapal. Dan kami bergegas menuju ke depan Bank Sendiri yang ada di Kota Tua (tidak jauh daripada Stasiun Kota) untuk mengejar bis Kopami 02. Ternyata bis yang berwarna biru semacam warna biru angkot di Kabupaten Bogor ini banyak yang ngetem di sana. Kami tidak berani melihat jam karena khawatir membayangkan ditinggal kapal. Jadwal kapal mainstream yang kucatat dari hasil googling utk hari non week end adalah pukul 06: 30. Ada juga yang memberikan jam 07: 00. Entah mana nan benar. Alternatif lain adalah naik perahu kerapu di pelabuhan baru Kali Sejuk, tak jauh dari pelabuhan lama Muara Angke. Schedule keberangkatannya jam 08: 00, namun antriannya yang menggunakan tas dijejerkan (katanya) mulai dari subuh. Namun kapal cepat yang disubsidi pemerintah tersebut ada kuota penumpangnya. Karena kapal tradisonal bisa menampung sekitar 200 penumpang, saya jamin aku bulat memilih naik kapal tradisonal, karena kesempatan terangkutnya besar. Hanya masanya yang buat deg-degan haha. Pilihanku jelas tepat, karena ternyata kapal kerapu lagi tidak beroperasi.

Perjalanan dari Stasiun Daerah hingga dermaga lama Muara Angke ngabisin waktu kira-kira 45 menit. Kami diturunkandi belokan depan Pembangkit Listrik Muara Karang-karang, dekat jembatan, sedangkan bis Kopami berbelok kiri menuju Terminal Muara Karang. Ketika kami turun, ada angkot merah U11 yang mengantarkan kami ke Pelabuhan Muara Angke. Tiba di sanaternyata sedang banjir. Dari kejauhan terlihat genangan air terlihat hitam. Sangat tidak mungkin kami menerobos kubangan itu. Di sekitar kami saat itu berada mobil odong-odong yang berjejer. Ketika aku akan menuju salah satu odong-odong itu, mendadak ada mobil odong-odong yang sudah berpenumpang berhenti dan mengajak kami ikut. Alhamdulillah odong-odong langsung meluncur ke pelabuhan. Sekilas mengurangi sutris karena berpacu dengan saat, euy! Tiba di pelabuhan sudah barisan banyak kapal nelayan. Alhamdulillah kapal di Tidung masih ada. Akhirnya kami terangkut juga ke Pulau Tidung. Ternyata schedule kapal memang tidak tetap. Kalau seketika penuh, jam 06: 00 kapal dapat berangkat. Kapal ke Tidung saat tersebut berangkat jam 7: 30-an. Jadi aku menunggu lebih dari 30 menit di kapal. Biarlah menunggu dari pada gagal ke Tidung gara-gara ketinggalan kapal.

Paket Wisata Pulau Tidung

Kapal tradisional berlantai 2 ternyata tidak hanya dijejali penumpang, tapi pun barang, seperti telur berpeti-peti, kopi berdus-dus, dan barang lainnya. Penumpang bisalesehan dalam atau pun di luarkapal. Bisa jadi daya tampung tak sampai 200 karena banyak penumpang nan datang lebih awal memilih VW, malah ada yang dalam posisi tidur sempurna, terlentang. Tapi begitulah kita harus banyak permakluman dalam angkutan umum. Aku dan teman, sebab kehabisan tempat, duduk di luar, di samping gerbang nahkoda. Namun aku senang bisa menyaksikan laut dari dekat. Aku bisa menyaksikan perubahan warna air laut, mulai dari dermaga warna hitam, lalu menjadi hijau, lalu biru tua yang menandakan laut dalam. Sebab duduk di luar, panas matahari terasa Keren menyentuh kulit. Untung aku bawa masker dan kaca mata hitam, jadi area wajah yang tidak tertutup bisa terlindungi dari paparan panas yang menyengat. Ketika di kapal kami baru menelepon sejumlah penginapan. Aku mencatat nama beberapa homestay yang kupikir dari namanya terdengar stabil. Saat itu aku menelepon dua homestay. Dua-duanya bertarif Rp250. 000, 00 persatu kali cekin. Akhirnya aku memilih penginapan bernama Kautsar. Alhamdulillah tarif bisa nego menjadi Rp200. 000, 00. Mungkin karena yang menginap hanya dua orang. Penginapan itu dapat menampung 4-5 orang perkamar. Oiya, harus ingat membawa nomor HP beroperator Telkomsel ataupun Indosat. Nomor selain yang dua tersebut tidak bernyawa di laut 1 jam ke Tidung. Ingat, jangan sampai Anda kalah gaya karena tidak bisa ngenet untuk di Tidung.

Akhirnya setelah kira-kira dua jam mengarungi lautan dan melewati Pulau-pulau, dari kejauhan terlihat sebuah pulau menggunakan masjid megah berwarna putih. Setengah jam kemudian aku mendarat di dermaga Pulau Tidung. Ketika ditelepon, ternyata CP penginapan kautsar telah menunggu di dermaga. Lalu kami di guide ke penyewaan sepeda. Harga sewa sepeda adalah Rp15. 000, 00 per 12 jam. Sudah lama tidak mengendarai sepeda menjadi agak tidak pede karena lebar cara berpaving block hanya 2 meter lalu harus berpapasan dengan bentor khas Tempat wisata Tidung. Di penginapan kami beristirahat terlebih dahulu, lalu menjelang zuhur kami bergegas menggunakan mengowes sepeda menuju masjid putih nan kami lihat dari kapal. Tiba di sini saat azan. Karena sudah wudhu daripada penginapan aku langsung naik ke tingkat dua, khusus wanita. Lebih dari 5 m solat berjamaah belum juga dimulai. Kulihat di bawah hanya ada 3 orang pria. Jadi ingat percapakanku dengan seorang peserta sebuah jamaah dari Hyderabad India nan mengunjungi Indonesia. Orang India ini mengatakan masjid-masjid di Indonesia jamaahnya sedikit ketika solat fardu. Sedangkan di India ribuan. Yah, harus menjawab apa diriku tersebut.

Beres solat, kami langsung meluncur di Jembatan Cinta. Mendekati TKP, kami bersepeda sepeda di antara dua pantai. Pantai bagian kiri terlihat sangat jernih. Kami terparkir sebentar hanya untuk poto-poto. Tiba ke kawasan Jembatan Cinta, kami memarkir sepeda di area parkir. Tarif parkir di semuanya spot adalah Rp2000, 00. Saat tersebut tengah hari. Panas menyengat, jadi tak begitu banyak orang di sana. Yang aku lakukan adalah mengisi perut. Betapa nikmatnya minum air kelapa ditambah es lalu makan bakso. Karena BBM naik, biaya kelapa pun menjadi Rp15. 000, 10. Komentar temanku tentang bakso yang aku makan di sana adalah seperti makan kawat, karena mie dan bihunnya masih berat. Setelah makanan turun, kami menuju ke Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Raksasa dan Kecil. Di dekat jembatan banyak sewa snorkeling ataupun penjualan tiket wahana yang menonjolkan pemandangan pantai seperti banana boat, donat boat, rolling boat, dll. Anda harus siap basah bila berminat mencoba wahana mendebarkan dan butuh stamina ini, karena pada akhirnya pengunjung wahana akan ditumpahruahkan ke laut. Semuanya wahana dan alat snorkeling bertarif Rp35. 000, 00.

Saat berjalan di Jembatan Cinta, kami melihat ada sekelompok remaja sedang berjalan di laut. Ternyata ombak sekitar jembatan tidak dalam! Aku yang tak berniat basah-basahan akhirnya mengikuti jejak nya. Kami mulai berjalan dari ujung jembatan dari sisi Pulau Tidung Kecil. Alhamdulillah berada penjaga pantai yang memberi kami plastic besar, sehingga tas dan bawaan aku bisa dimasukan ke dalam plastik. Kami berada dengan memanggul kantong plastic besar. Namun karena di air, kantong itu bahkan bisa menjadi balon pelampung. Saat berada dari jembatan dua orang penjaga bahari memperingatkan kami agar memakai alas kaki, karena ada ikan yang hidup ke terumbu karang dan juga bulu babi. Menurut nya bila kaki kita digigit ikan kepu bisa mengakibatkan kaki kita tidak dapat digerakkan. Lalu kami menu njukkan jika kami sudah memakai sepatu. Awalnyakami bertelanjang kaki, tapi karena sakit jalan pada terumbu karang, maka kami memakai sepatu aku. Tidak salah deh memakai sepatu serba guna, Crock. Tidak terasa berjalan jelas ketinggian air sudah mencapai dada. Aku ketakutan. Bagaimana tidak takut, saat tersebut tidak ada orang, kecuali kami. Kalo terlaksana apa-apa kan gawat karena kami pun tidak memakai life vest. Ternyata satu hari sebelum kami ke sana, ada anda yang meninggal di laut karena mendadak ada ombak. Jadi memang harus waspada. Bagusnya memang memakai life vest lalu alat snorkling dan ada guidenya. Alhamdulillah kami tahu diri.

Saat di darat, kami baru sadar tenyata plastik aku bocor. Tas dan bajuku basah! Alhamdulilah HP dan barang berharga lainnya selamat, karena memang kami masukkan ke dalam tetasan plastic. Sambil berjemur, kami mulai sadar kawasan Jembatan Cinta mulai dipenuhi tamu. Saat itu waktu sudah mendekati petang. Oh, jadi banyak yan g hengkang penginapan menjelang sore. Kami tidak bisa menunggu sunset di Jembatan Cinta. Maka kami memutuskan kembali ke penginapan. Pendapat pengelola wahana air, sunset dan matahari terbit bisa dilihat di Jembatan Cinta. Oiya, kami baru tahu ternyata Jembatan Asmara terletak di ujung Timur Pulau Pari, jadi cocok untuk melihat sunrise. Tapi sunset cocok dilihat di ujung timur, yaitu di Pantai Saung. Tapi kalau aku balik lagi pada subuh hari ke Jembatan Cinta, berarti kami tidak bisa mengunjungipantai di sebelah barat. Akhirnya, kami membeli tiket untuk mengejar sunrise di spot salahnya, di pantai ujung barat Pulau Tidung haha.

Jam 05: 15 kami keluar dari homestay. Masih gelap dan jalanan lengang. Sejumlah sepeda dan motor terparkir di tepi jalan. Sepertinya di sini keadaannya aman. Sebab takut tidak aman, kami memasukkan sepeda sewaan kami ke penginapan, kan berabe kalo harus ganti haha. Lagian dipikir-pikir kalo mau nyuri juga si pencuri mau naro di mana itu sepeda, waktu mau berenang pake sepeda ke Muara Angke? Haha. Untung saja penginapan aku cukup luas, terdiri dari ruang tamu (terdapat dispenser air panas dan TV), ruangan tengah untuk tidur, dan kamar mandi. Perjalanan ke Pantai Saung melewati semak-semak. Agak khawatir juga sih karena kami hanya 2 orang wanita. Jalanan menuju ke pantai pula banyak cabangnya. Jadi setiap bertemu warga pasti kami tidak segan untuk ingin tahu. Sebelum tiba di pantai tujuan, kami tiba di sebuah jembatan dari bambu nan terputus. Temanku menyebutnya Jembatan Putus Asmara haha. Di sana kami masih melihat yang berwarna jingga di kaki langit. Kami tak bisa berlama-lama di Pantai Saung, karena musti mengejar kapal yang berangkat jam 08: 10.

Selama kami di Pulau Tidung, aku sempat melintasi beberapa sekolah, yaitu: MTs, SMK dan MAN, puskesmas yang besar, juga ada rumah tradsional joglo, bisnis kelurahan di mana terdapat ATM Bank DKI, juga lewat kantor kecamatan. Pulau Pari sendiri merupakan sebuah kelurahan dari Kawasan Administrasi Pulau Seribu, yang memiliki 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Pulau Seribu Timur dan Selatan. Pulau Tidung masuk ke didalam Kecamatan Pulau Seribu Bagian selatan. Awalnya bahari Seribu masuk ke dalam Kotamadya Jakarta Timur. Lalu ditingkatkan statusnya jadi Kawasan Administrasi. Penduduk pulau iniberasal dari Provinsi Banten dan juga ada orang Betawi. Mereka bertanggung jawab terhadap pendatang. Mudah-mudahan mereka tidak tercemari oleh tingkah laku para pengunjung, karena untuk di Pulau Tidung kami melihat sejumlah pasangan muda yang mudah-mudahan saja nya adalah pasangan menikah. Pemakaian steroform si sampah abadi seharusnya dihindari, untuk itu sebaiknya LSM yang concern terhadap persampahan dating dan memberi pengarahan kepada penduduk supaya menggunakan kemasan yang ramah lingkungan. Kedatangan singkat ke Pulau Tidung bagiku amat berkesan, karena bisa melihat keindahan bahari berupa kejernihan laut sehingga kita dapat melihat biota yang ada di dalamnya, juga sebab aku bsia bersepeda yang sepertinya bisa bakar kalori dalam jumlah banyak haha. Mengharap bisa ke sana lagi supaya dapat siap bersnorkling riya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.